Rabu, 27 April 2016

PEMILIHAN LOKASI BUDIDAYA UDANG INTENSIF SISTEM BIOFILTER

        BUDIDAYA UDANG INTENSIF SISTEM BIOFILTER
     
       PEMILIHAN LOKASI
Penerapa lahan bagi usaha pertambakan harus didasarkan pada hasil penilaian kelayakan secara teknik, biologis, sosio-ekonomis, resmi dan ditunjang oleh konsep kelestarian lingkungan beberapa aspek antara lain :
    1.     Sumber air : kuantum yang cukup dan kualitas yang baik
-          Lahan sebaiknya terletak di jalur pantai untuk mendapatkan kuantum air payau yang cukup.
-          Kualitas air yang baik ditentukan oleh fluktuasi dari kadar garam, pH, kandungan, BOT, H2S, NH3, PO4, NO2, NO3.
-          Sumber air tawar yang diperoleh dari air sungai atau air sumur dalam dibutuhkan, untuk pengenceran pada musim tertentu sehingga kadar garam dapat diatur sesuai kebutuhan udang.
-          Lokasi sdeal apabila dijumpai sungai sebagai sumber air tawar yang baik.
   2. Tanah : tekstur dan kualitas tanah.
Tekstur tanah yang dikehendaki tergantung dari tingkat teknologi budidaya udang yang akan diterapkan yaitu :
a.       Teknologi budidaya udang intensif (debu berpasir);
b.      Teknologi budidaya udang semi intensif )liat berpasir dan berdebu);
c.       Teknologi budidaya tradisional (berdebu dan liat berpasir) dalam perimbangan yang berlainan (Poernomo, 1988)
Kualitas tanah yang utama adalah pH, bahan organic, P dan N, Fe dan Redox potensial. Pada tanah gambut/pyrite yang umumnya masam (pH=2,5 – 3,5) tidak layak untuk lokasi budidaya udang.
   3. Elevasi
Lahan pantai dengan elevasi terendam air sedalam 0,5 – 1,0 m selama periode rata-rata pasang tinggi dan dapat dikeringkan secara tuntas pada saat pasang rendah.
   4.   Tipologi pantai
-     Type pantai yang curam sangat ideal untuk memudahkan pembuangan air limbah ke laut secara tuntas.
-     Pada tipe pantai yang landai sering didapatkan siltasi yang cukup tinggi dan air buangan tambak tidak tuntas ke laut, sehingga cemaran tersebut dapat balik pada saat pasang.
   5 .  Topografi
Tofografi yang baik adalah rata untuk memudahkan biaya kontruksi petakan tambak dan operasional budidaya.
   6.   Keadaan cuaca yaitu curah hujan, evaporasi, dan arah serta kecepatan angin.
   7.     Prasarana transportasi dan komunikasi tersedia secara memadai.
  8. Aspek legalitas dari pemerintah yang disesuaikan dengan tata ruang wilaya pantai menghindari benturan-benturan kepergian lahan tersebut. Di samping itu legalitas hak atas tanah untuk memudahkan bantuan modal (agunan)
   9.      Kemudahan memperoleh tenaga kerja dan dekat dengan sarana social.

  10.  Keamanan terjamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Blogger templates